Membangun “Nation Character” dengan Matematika, Bahasa, dan Sejarah

”Tiga pelajaran dasar yang perlu diajarkan ke generasi muda untuk membangun Nation Character: Matematika, Bahasa dan Sejarah. Matematika mengasah logika. Bahasa mengasah rasa. Sejarah mengasah arah.” (Teddy Tricahyono, Sekjend Inovator 4.0 Indonesia)

Supaya sebagai bangsa, kita jelas arahnya, logis langkahnya & terasa makna imajinasinya (bangsa sbg “Imagined Community”, kata Ben Anderson)

Mungkin kau berkata, “Ah tanpa belajar sejarah, aku sukses karena langkahku logis kok!”. Tapi tanpa bahasa utk mengkomunikasikannya, kau mudah disalahmengerti & tanpa tahu sejarah, kau akan dianggap menyesatkan tujuan

Dan ada juga yang berdalih, “Aku tahu bahasa utk meyakinkan orang. Gak perlu terlalu logis. Ribet!”. Kalau begitu kau akan dituduh sdg menipu dgn permainan kata2 manismu. Bahkan jika kau sedang berkata2 benar

“Aku paham sejarah. Gak usah lah aku paham logika atau matematika!”, kata yang lain. Orang seperti ini akan mudah dituduh melihat masa lalu saja & tdk jelas langkahnya menuju masa depan. Ibarat sopir, dia lebih sering lihat kaca spion dari pd kaca depan.

Jadi tepat kata Sekjen Inovator 4.0 Indonesia, bahwa pendidikan dasar untuk murid-murid adalah Matematika, Bahasa dan Sejarah. Mereka akan siap untuk situasi bagaimanapun dengan laju perubahan secepat apapun

Saat saya bilang belajar Matematika bukan berarti ia ttg persamaan-persamaan matematis. Bisa juga belajar buku seperti karya-karya Eugenia Cheng, “Art of Logic” atau “How to Bake Pi”. Ini tentang matematika teori kategori yang mencoba melogikakan etika maupun seni (musik & memasak!)

Tentang sejarah ? Baca karya-karya @harari_yuval terutama Sapiens dan karya Jared Diamond, “ Guns, Germs & Steel”, dan “ The World until Yesterday”. Ketiga buku ini sudah diterjemahkan Gramedia Pustaka Utama. Guru-guru sekolah Indonesia harus berani membahasnya seperti yang dilakukan oleh Dave.Tielung

Dalam buku matematika Teori Kategori, “Art of Logic”, kita belajar dr Eugenia tentangg anggapan bahwa perempuan kulit hitam yangg sukses lebih rendah dari pria kulit putih yangg gagal (rasisme & machoisme) itu gak logis. Bahwa saling mencintai itu jauh lebih positif dari negatifnya.

Setelah belajar, “ Art of Logic, anak-anak bisa belajar algoritma komputasional. Berlebihankah? Tidak.

Ini bekal untuk anak-anak era Revolusi 4.0.

Bagaimana tentang bahasa? Saya tidak tahu ilmunya. Tapi untuk memperkaya imajinasi, kosa kata & watak anak-anak & pemuda kita dorong mereka untuk membaca karya-karya seperti “Harry Potter”, “Laskar Pelangi” atau “5 cm”. Utk pemuda, bisa juga membaca Bumi Manusia dan Laut Bercerita.

Ayolah, anak-anak kita berhak untuk mendapat Indonesia yg lebih baik & Indonesia juga berhak menuai anak-anak yang lebih baik dari masa kanak-kanak kita dulu..

Skill Kecakapan Sosial yg TAK AKAN bisa digantikan teknologi Revolusi 4.0, kata Prof Iwan Pranoto, (mantan Atase Pendidikan di KBRI New Delhi), India adalah bangsa yang penduduknya paling sering bertanya di dunia. Krn itu matematika & komputernya maju  

Presentasi Prof Iwan Pranoto

Jenis-jenis pekerjaan yang paling cepat digantikan oleh Kecerdasan Buatan dalam Revolusi 4.0

Presentasi Prof Iwan Pranoto

Skill berpikir NON-RUTIN & bekerja NON-MANUAL adalah yg paling bisa bertahan di era Revolusi 4.0. Orang-orang dengan ketrampilan kecakapan sosial & ketrampilan matematika yangg tinggi yang akan paling bertahan.

Presentasi Prof Iwan Pranoto

Sumber : Twit Budiman Sudjatmiko. 6 Agustus 2019

hammamfaiz
hammamfaiz
admin@simklinik.id